Media Digital Lestarikan Kebudayaan Indonesia

Tahun 2012 ini seringkali disebut sebagai era digital, dimana seorang manusia tidak dapat terlepas dari yang namanya gadget sebagai perantara mengakses tenologi digital entah itu pejabat, bisnisman, wanita karir, remaja, anak-anak bahkan ibu rumah tangga seperti saya ini. Masih ingat saat jaman SMU dulu, yang namanya handphone merupakan barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang saja. Itupun yang namanya handphone masih sebatas sms dan telpon. Namun masa itu telah berlalu, kini sebuah handphone merupakan media komunikasi primer yang dimiliki oleh hampir semua orang, bahkan anak kecilpun tidak sedikit yang sudah memiliki handphone, smartphone malah (lihat aja saat naik angkot bareng anak sekolah, smartphonenya mantap-mantap). Ibaratnya jika dahulu sandang, pangan, papan kini kita perlu tambahkan dengan sandang, handphone, pangan, papan yup...saya sengaja menomer 2-kan setelah sandang, karena banyak dikalangan masyarakat Indonesia yang harus mengetatkan ikat pinggangnya, untuk sebuah handphone sebagai media digital mereka.
 
Bantengan yang belum banyak diketahui oleh khalayak, semoga kebudayaan Bantengan yang ada di Jawa Timur ini bisa  seterkenal dan di akui sebagai aset kebudayaan Bangsa Indonesia
Media digital berkembang “berbanding lurus” dengan perkembangan zaman dan globalisasi. Jika dahulu hanya sebatas sms dan telpon semata, kini perkembangannya jauh dari apa yang dipikirkan orang sebelumnya, internet mendominasi komunasi digital. Dengan media digital kita tidak hanya mampu bertanya kabar, bisnis , namun silaturahmi, namun kita juga bisa memanfaatkannya sebagai media partner untuk mempromosikan kebudayaan kita kepada bangsa lain. Eksistensi Indonesia dengan adanya media digital ini menjadi lebih dikenal baik itu teknologi, social maupun budaya oleh negara lain. Kebergaman kultur yang diimbangi dengan canggihnya media digital mampu membawa Indonesia keranah masyarakat dunia.

Manfaat yang dapat kita capai dengan adanya media digital tidaklah terbatas. Jikalau dahulu sebuah ilmu selain di sekolah menjadi sangat mahal kita peroleh, kini cukup dengan mengetikkan “kata pencarian” di google, apapun bisa kita temukan. Masyarakat Indonesia menjadi lebih care n respect terhadap sesama, slogan “sharing (berbagi)” menjadi sangat populer untuk membantu individu lain berkembang dan maju. Pemikiran-pemikiran yang brilliant banyak dituangkan dalam blog-blog mereka, juga informasi berupa tulisan, gambar dan juga data yang mana Informasi ini bisa diberikan melalui email, update status, tweet, bahkan tulisan di blog menjadikan kita serasa dekat mesti berada ribuan kilometer jauhnya, jika dahulu manusia berfikir apatis terhadap sesuatu hal karena kekurang tahuannya informasi kepada mereka, kini bisa menjadi lebih open minded.  Satu persatu mulai meruntuhkan mitos-mitos yang tidak mendasar yang kemudian menciptakan Komunitas digital online baru, mulai dari komunitas  Blogger Nusantara sampai dengan komunitas “Ayah ASI” ada di dunia digital online. “Belajar dan mencari ilmu sampai mati” tiada perbedaan umur yang menjadi penghalang kita bertukar ide dan informasi merupakan sebuah fenomena baru yang merujuk sebuah kemajuan “manusia melek teknologi”.

“The Man Behind the Gun” Pembentukan karakterlah yang sangat berperan penting di sini, memanfatkan digital teknologi tanpa dibarengi oleh pembentukan karakter yang kuat masing-masing individu, akan menciptakan sebuah boomerang yang justru merugikan sekali baik oleh individu sendiri maupun orang lain, landasan ini diciptakan karena media teeknologi belum memiliki sebuah filter yang jelas. Contoh kerugiannya antara lain banyakknya hacker yang menerobos laman-lama besar yang seharusnya bermanfaat menjadi blank, tindakan kriminal dibawah umur meningkat akibat social media dan konten ponografi,  
Ini merupakan salah satu adegan tarian silat "Kembangan" yang ada di Acara Bantengan

Terjadinya perselisihan antara suku bangsa karena perbedaan SARA, penipuan online dan kejahatan-kejahatan lainnya yang tercipta. Selain itu, dengan adanya digital tekonologi masayarakat membentuk pola pikir yang baru yang semestinya hal ini yang sangat penting untuk dipertahankan, yaitu renggangnya hubungan social masyarakat yang “nyata” seperti tetangga. Kita lebih mengutamakan hubungan social online daripada keberadaan tetangga kita sendiri, padahal kebutuhan akan tetangga bersifat primer. Tidak heran jika sekarang banyak orang  tidak tahu nama tetangga kita sendiri.

Media digital sebagai media informasi tidak lepas dari yang namanya “Blogger” entah menuliskan artikel untuk diri sendiri yang sapa tahun 3-10 lagi bakal dibaca lagi (kayak diary aja ya..), maupun untuk orang lain. Terus terang internet menjadi sebuah sarana informasi yang #1 daripada televisi. Karenanya sebagai seorang blogger perlu sekali memiliki jiwa “Share n Respect”, menulis tidak hanya memberikan pendapat pribadi yang negatif atau lebih pada menggosip yang akan dibaca oleh para pengunjung, namun Sharing/berbagi informasi yang mencerahkan para pembaca, seperti “bagaimana cara bla bla bla” atau “cara membuat bla bla bla” dll, berbagi informasi lebih bermanfaat dan membekas di pikiran sang pembaca untuk move on daripada sekedar bergossip yang setelah membacanya, sang pembaca justru tidak akan mendapatkan ilmu atau manfaat apa-apa.

Respecting, Menghormati dan menghargai di Indonesia sekarang sangat perlu untuk dipupuk lagi mengingat pemberitaan di TV lokal lebih memberikan berita yang bad news is good news semakin buruk sebuah kejadian, maka semakin gencar pemberitaan, padahal “mereka” bisa memberikan informasi yang mengajak kita untuk bersifat lebih respecting, contohnya saat pesawat Sukhoi jatuh beberapa waktu lalu sang blogger tidak sepatutnya memberikan informasi foto-foto keadaan para korban yang justru membuat saudara-saudaranya bertambah sedih, apalagi foto-foto tersebut malah bukan sebenarnya.

Yuk jadi blogger yang 2SCR ( Simple, Smart, Caring, and Respecting) ga perlu ribet kok jadi blogger, cukup jepret dengan kamera handphone, misalnya tentang keadaan yang ada disekitar kita saat ini, upload ke blog dengan descripsi yang inspiratif, mungkin bagi anda hanya berupa celotehan (yang positif tentunya ) namun bagi orang lain yang membacanya ini merupakan ilmu baru atau informasi yang bermanfaat.
Smart disini menjadi blogger ga hanya ngedumel keadaan yang galau saat ini, (cukup kita bergalau di Facebook & twitter ya..), namun di blog kita, kita musti menjadi penjiwa-penjiwa yang smart. Mengisi blog juga perlu yang namanya kepandaain, jangan kecil hati jika sekarang masih blogger galau seiring berjalannya waktu pasti akan menjadi blogger yang smart dengan cara kita blogwalking ke blog-blog yang memang banyak menuliskan tulisan-tulisan yang smart.

Caring, tahu kan kalo Indonesia sekarang ini minim mental-mental kebanggan negara. Kita lebih senang n cinta terhadap negara lain, yang pada akhirnya budaya kita sendiri tidak kita kenali. Yuk sebagai blogger mulai menuliskan tentang budaya yang kita miliki sekarang. Gak perlu ribet kok, dimulai dari budaya daerah kita  (Bantengan, Kuda lumping / jaranan misalnya), Bangga memakai produk dalam negeri.

Ini merupakan Salah Satu Contoh Kebudayaan Jawa Timur yang saya abadikan via Media Digital satu tahun lalu, Alhmadulillah sudah ada 12 Ribu lebih orang yang melihatnya. Semoga Kebudayaan kita bisa selalu lestari.


2 komentar:

  1. salam hangat dan sukses selalu.. :)

    BalasHapus
  2. selamat mengikuti lomba,
    salam kenal.
    kunjungi balik ya.
    trims ^.^

    BalasHapus