Lahirnya Anakku Buah Hatiku


Menjadi orang tua merupakan sebuah anugerah sekaligus kepercayaan bagi kita para orang tua. Dimana saat seorang bayi lahir yang tercipta di hati kita hanyalah kebahagiaan dalam tetesan air mata yang bahkan kita sendiri tidak bisa mengartikannya.

Tanggal 23 Februari 2012 pagi jam 4:30 Wib setelah menunaikan shalat subuh tidak tahu bagaimana terasa bahwa ada cairan yang keluar, begitu saya sentuh ternyata adalah darah segar yang begitu melihatnya perut terasa mulas, kaget dan sekaligus cemas. Sang suami yang mengetahui keadaan saya juga tidak kalah kaget dan kalut, bahkan lebih kalut daripada saya yang sudah tidak bisa berkata apa-apa.

Jam 5:00 Wib akhirnya diputuskan suami dibawa ke bidan Andalan kami dengan naik motor tanpa ditemani saudara lain, di ruang periksa yang hanya berukuran 4x4 meter saya diperiksa dan dengan tenangnya Bu Bidan mengatakan masih bukaan 1 dan diminta pulang saja karena masih lama, bisa jadi masih 1 minggu kemudian. Alangkah kalutnya pagi itu, padahal menurut hitungan lahir tanggal 23 Februari kandungan saya sudah masuk bulan ke 10. Perasaan takut mendera kami karena lebih bulan berarti resiko bayi menelan air ketuban yang sudah keruh lebih besar, dan perasaan ketakutan karena ternyata si baby belum turun. Di dalam kegetiran kita sang Bidan menawarkan untuk operasi caesar. Entah pada saat itu apakah tawaran, namun yang terpikirkan oleh kami saat Bidan mengatakan hal ini, adalah sebuah keputusan.

Di rujuk dan diantar oleh Bu Bidan di rumah sakit swasta bersama suami adalah suatu perjalanan 1 jam yang terasa panjang, ditengah perut yang mulai mulas, sang suami mengikuti mobil Bu Bidan yang membawaku dengan motor dan tas bawaan yang tentu saja berisikan keperluan pasca melahirkan. Akhirnya setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, mulai dari USG, periksa darah dan puasa selama 5 jam. Saya di bawa ke ruang operasi yang dingin, rasanya seperti berada di ruangan yang mengerikan, yang terdengar hanyalah suara alat-alat operasi yang tengah dipersiapkan oleh sang asisten dokter. Rasanya ingin kabur, ingin memutar waktu agar tidak masuk ruangan yang dingin ini. Ditambah sang perawat yang mengatakan hal-hal yang menyemangati, ya,,pada waktu itu rasanya takut dan takut..namun demi sang buah hati yang akan keluar mengisi kehidupan kami, juga sang suami yang menunggu dan pasti sangat tegang, lebih tegang dari saya yang di dalam ruangan operasi saya menjadi lebih tenang. Hanya bacaan kepada sang Khalik  saya ucapkan saat operasi yang berjalan 45 menit itu berlangsung. Rasa sakit ternyata tidaklah terasa saat di operasi karena memang sudah di suntik oleh obat bius. Selang 45 menit setelah perut atas di dorong oleh perawat yang tugasnya berdiri disamping saya, akhirnya keluarlah bayi laki-laki dengan tangisan yang kencang. "selamat ya Bu,,anaknya laki-laki..."...Rasanya kata-kata itu sampai sekarang  mungkin selamanya yang teringat oleh saya. Rasa haru, bahagia, bingung, tangis menjadi satu saat bayi mungil yang masih menangis disodorkan ke wajah saya untuk diperlihatkan dan dikecup. Ya Allah,,beginilah melahirkan seorang bayi...bahagia rasanya...

Hal bahagia terasa diantara kesakitan, manakala obat bius itu menghilang setelah 3 jam pasca operasi. dikala seorang ibu yang bahagia menggendong bayi dan menyusui karena melahirkan normal, saya harus merasakan panas, sakit dan rasa kangen karena bayi kami tidak bisa bersama  disamping saya tidur, namun bersama bayi-bayi lain di lantai 3 (saya berada di lantai 1). Beruntungnya saat itu adalah saat dimana bayi kami adalah satu-satunya bayi laki-laki yang lahir diantara 8 bayi perempuan, perasaan khawatir anak tertukar tidak menjadi beban yang menyelimuti 3 malam di kamar rumah sakit. Alhamdulillah juga ASI bisa lancar tanpa kendala dan begitu bayi kami dibawa oleh perawat di samping saya yang masih terkapar dan sakit, maka sang ibu baru ini harus memberikan ASI (Alhamdulillah ASI bisa lancar tanpa kendala mesti sakit pasca operasi), memberikan ASI dengan melihat buah hati yang kecil, tanpa henti-hentinya hanya tangis dan do'a dari saya dan juga suami, Doa semoga menjadi anak yang sholeh dan dapat berbakti pada orang tua dan juga agama.

Perasaan kagum dan syukur kami ucapkan kepada Allah karena telah diberikan kepercayaan untuk merawat dan membesarkan seorang anak laki-laki yang akhirnya kami beri nama Tsaqif. Tsaqif adalah buah cinta kami yang lahir bersama perjuangan kami, mengingat saat berada di kandungan terasa sangat indah, namun berada di tengah-tengah kami adalah anugerah.

Pelajaran yang diperoleh sebagai ibu baru adalah SABAR, sabar menjalani hari demi hari yang penuh dengan pelajaran baru, mulai dari sabar menggendong di tengah malam saat rewel, terbangun setiap 4 jam sekali mengganti popok, sabar tidak lagi bisa ngeblog sebanyak waktu seperti dahulu, terjaga malam hari dan mesti bangun pagi-pagi buta,  tidak bisa lagi menonton TV kesayangan tepat waktu, memandikan si kecil yang masih lemah, bersama suami gantian jaga saat si kecil demam, tidak bisa pergi-pergi jalan-jalan bersama sahabat. Namun ditengah-tengah pelajaran kecil-kecil setiap hari, ada banyak sekali kebahagiaan yang datang bersamanya.


Kini usia anakku sudah 8 bulan, banyak pengorbanan yang sudah kita lakukan, mulai dari gantian bangun malam saat dia demam karena imunisasi, ke Bidan pagi-pagi, antri pijat, rewel saat aku puasa Ramadhan. Namun yang pasti kami tahu bahwa pengorbanan kami tidak sebanding dengan kebahagiaan yang datang kepada kami dengan kehadirannya.




Harapan untuk Anakku

Mana kala melihat bayi diluar sana yang tumbuh kembangnya begitu cepat, rasanya ada perasaan khawatir dan juga gundah. Namun, cinta kasih seorang ibu ternyata jauh lebih besar daripada memikirkan kegundahan itu. Yup,,, bayi kami memang belum bisa duduk diusia 8 bulan, belum dapat memegang makanan dengan dua tangannya dan entah apalagi yang belum bisa dia lakukan sesuai perkembangan usia bayi pada umumnya. Namun, dia tetap putra kami yang terhebat, yang sangat lucu saat mengoceh, yang matana seperti bulan sabit yang semua kelebihannya adalah anugerah dan kekurangannya bukanlah hambatan cinta kasih kami terus bertumbuh, baru aku sadari bahwa menjadi seorang ibu ternyata memiliki cinta kasih seluas samudra kepada anaknya.

Harapan seorang ibu baru yang masih 8 bulan bersama buah hati adalah melihat dia nantinya menjadi seorang anak yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri, pikirannya sendiri dan tentu saja menjadi anak yang berbakti. Jika sebuah harapan bisa di bentukkan maka, harapanku kepada anakku akan menutupi laut selatan. Namun Mana kala sang putra tergolek ditempat tidurnya dalam keadaan sakit sedikit saja, harapan yang besar itu akan sirna menjadi sebuah doa kesembuhan bagi nya.

Jika melihat pengorbanan seorang ibu membesarkan putra-putrinya nampaknya akan nampak begitu besar, tapi tidak dengan sang ibu mana kala mengasuh buah hatinya, pengorbanan itu tiadalah artinya, bangun malam hari gantikan diapers, memberi ASI, bahkan menjaga saat sakita akan segera terlupakan saat pagi datang dengan sambutan senyum cerianya.

PUISI untuk anakku....


Buah hatiku
Engkaulah kelopak dalam bunga
Bukan daun ataupun ranting yang mudah patah

Engkaulah bintang dalam gelap malam
Bukan bulan yang hanya bersinar dari pantulan

Engkaulah sang Laksamana
Yang gagah dan cakap dengan angkatan perangnya

Engkulah sang langit
Tinggi dan agung tempat para impian berada...


4 komentar: